Sebagian besar dari pada manusia hidup dalam organisasi baik organisasi formal maupun tidak formal karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Demikian juga penulis, tidak lepas dari kehidupan berorganisaisi.
Berikut ini penulis akan berbagi pengalaman sesuai dengan pengalaman penulis dalam hidup berorganisasi.
1. a. Organisasi informal.
Semenjak penulis memasuki bangku sekolah dasar penulis sudah terlibat dengan hidup berorganisasi. Tentu saja berorganisasi informal, dimulai dari pembentukan kelompok diskusi antar sesama siswa guna mengerjakan sebuah tugas yang diberikan oleh guru. Dalam suatu kelas para siswa dipecah dalam beberapa kelompok kerja yang beranggotakan 5- 8 orang dalam sebuah kelompok harus ada seorang ketua kelompok yang memimpin kelompok tersebut. Walaupun demikian pada kelompok tersebut tidak terdapat rating jabatan seperti halnya pada organisasi formal pada umumnya. Semua kedudukan adalah sama dan dalam pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah. Dan dalam oraniasasi kecil ini tentu saja tidak ada gajian. Semuanya dilakukan secara sukarela.
Tugas daripada ketua kelompok adalah mengorganisasi anggota agar kegiatan yang hendak dilakukan dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan bersama. Tetapi bukan untuk mengambil keputusan seperti halnya organisasi formal pada umumnya. Keputusan diambil dengan jalan musyawarah.
1. b. Organisasi formal.
Pengalaman penulis dalam berorganisasi formal banyak sudah, mulai dari organisasi perusahaan tempat bekerja hingga organisasi kesiswaan dan kemasyarakatan.namun dari pengalaman itu semua penulis menggaris bawahi point yang terpenting dalam organisasi tersebut.
Dalam organisasi formal terdapat tingkat ruang lingkup yang lebih luas dan tentunya tanggung jawab yang lebih besar. Dibutuhkan seorang yang baik dan benar-benar jujur untuk menjadi seorang ketua.
Pada organisasi formal ini jabatan ketua sangatlah vital, adil tidaknya, makmur tidaknya dan masa depan organisasi itu sendiri sangat bergantung terhadap sang ketua. Contohnya saja, seorang pemimpin yang kurang baik akan terlihat pada kehidupan rakyatnya, sengsara dimana-mana, kemiskinan, susah hdup, triliunan melayang entah kemana..?, pengusutan kasus tertentu tidak tuntas-tuntas, pelecahan dan tindak kekerasan bahkan ada yang berujung kematian terhadap para pahlawan devisa, dan masih banyak lagi. Kesemuanya ini sangatlah bergantung terhadap para ketua yang dipertuan agung,
Karena ketua pada organisasi formal mempunyai wewenang dalam pengambilan keputusan. Dan tentu saja itu tidaklah mudah, harus dilandaskan oleh hati nurani jangan dilandaskan kepada kepentingan pribadi maupun golongan.